MAKNA IEDUL FITRI

Oleh : H.M. Ro’inul Balad, S.Sos.I. (Ketua Déwan Da’wah Jabar)

DARI segi makna lafdiyah Iedul Fithri adalah kembali kepada fithrah, kembali kepada kesucian. Yang dimaksud adalah bahwa setiap seorang muslim yang telah melaksanakan shaum selama satu bulan; di mana telah diberi latihan oleh Allah SWT, bahkan dosa-dosapun berguguran oleh amal sholeh yang dilakukannya, lantas Allah SWT menyampaikan pada kita; bahwa di penghujung bulan Ramadhan umat Islam mendapatkan hari kemenangan. Kemenangan itulah yang disebut al-Fithrah.

Mengapa mendapat kemenangan? Karena ketika seorang muslim yang sudah melaksanakan shaum bertemu dengan Iedul Fithri, maka sebetulnya dia sedang diingatkan akan jati-dirinya sebagai hamba Allah SWT. Maka dia akan mengingat dan menyadari bahwa dirinya itu adalah merupakan makhluk Allah SWT yang diciptakan oleh-Nya dalam keadaan suci. Dalam al-Qur’an Surat al-‘Arof 172 disebutkan bahwa ketika seseorang di alam rahim, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman: ‘Bukankah ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi’. Kami melakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lemah terhadap keesaan Tuhanmu.’ ....”

Selanjutnya, maka fase manusia itu setelah dia di alam rahim kemudian lahir ke muka bumi ini yang namanya alam dunia. Maka ketika lahir pun Rosul SAW mengatakan, “Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fithroh. Maka kedua orang tuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nashroni atau Majusi.” Ketika masa bayi sampai masa menjelang akil-baligh, itu semua diserahkan kepada orangtua untuk mendidiknya, apakah dijadikan Yahudi, Nashrani ataupun Majusi. Ketika setelah akil-baligh itu tantangan bagi setiap pribadi muslim. Karena pada prinsipnya, kalau dia dididik sebagai muslim sejak bayi oleh kedua orangtuanya, bersyukurlah dia. Bahkan lebih jauh dididik sebagai muslim itu adalah menjadi hamba Allah yang hanya beribadah kepada-Nya. Itu pulalah yang disebutkan dalam al-Qur’an Surat adz-Dzariyat ayat 56, “Dan tak semata-mata Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”


 

Masa kanak-kanak atau belum akil-baligh segalanya ada pada orangtua. Bagi yang telah akil-baligh maka mempunyai kewajiban, yaitu kewajiban-kewajiban untuk memelihara keimanan ini juga kewajiban menyampaikannya. Bukan hanya untuk pribadi kita. Tapi juga kewajiban menyampaikan kepada orang lain. Bila yang telah berkeluarga kepada pasangannya, kepada anak-anaknya. Bagi yang bekerja kepada teman-teman kerjanya. Menyampaikan apa? Menyampaikan Islam ini. Itulah yang disebut dengan da’wah. Menda’wahkan Islam ini tentu dimulai dari pribadi, dari keluarga, lingkungan masyarakat, bangsa dan negara. Lantas, dalam lingkup da’wah, apa yang harus dida’wahkan? Yang pertama harus dida’wahkan adalah bahwasanya kita ini hanya menyembah Allah SWT dan tidak membikin tandingan bagi-Nya. Ini yang harus dida’wahkan. Inilah da’wah tauhid yang paling berat, karena lawannya da’wah kesyirikan. Da’wah kesyirikan itu di setiap saat, di setiap zaman ada. Dalam bahasa al-Qur’annya, “Sungguh Kami telah mengutus nabi pada setiap zaman itu untuk mengajak manusia menyembah Allah dan untuk menjauhi atau melawan thoghut.” Thoghut itu apa? Tiada lain segala sesuatu yang disembah selain Allah.

Konteks Iedul Fithri dalam dunia da’wah, adalah siapapun yang bertemu dengan Ramadhan kemudian disambung dengan Iedul Fithri, maka sejatinya dia menyadari akan kewajiban-kewajiban dirinya untuk Allah SWT dan Rosul-Nya serta untuk agama ini. Kalau kita melaksanakan kewajiban-kewajiban itu, yakni mempelajari Islam dan mengamalkan Islam, juga menda’wahkan Islam, bahkan merjuangkan Islam menjadi pemenang di muka bumi ini, maka itulah hakikinya kita mendapatkan Iedul Fithri, dipelihanya kita oleh Allah SWT dalam tauhid yang musuhnya syirik. Tentu ini tidak bisa dilakukan tanpa kebersamaan. Maka, Alhamdulillah, kalau kita bertemu dengan Iedul Fithri tahun ini, ini adalah merupakan rahmat dari Allah SWT. Untuk itu perkuatlah diri kita sebagai bagian dari barisan mujahid da’wah. Karena bagi kita sebetulnya tidak ada artinya hidup di muka bumi ini kalau tidak pernah berbuat, tidak pernah berupaya, bahkan tidak pernah berperang untuk memenangkan Islam ini. Ini semua makna tauhid yang sesungguhnya yakni bagaimana memenangkan Islam ini. Maka Iedul Fithri datang mestinya da’wah ini sebagai pemenang di masyarakat umum. *** 
Previous Post Next Post